Bagi beberapa orang, mungkin pernah merasakan atau mengalami hal-hal yang berhubungan dengan mistis, dunia gaib dan semacamnya. Berbagai kisah seram mungkin pernah kita dengar atau bahkan kita alami sendiri,entah yang pernah ketemu setan, lalu kenalan sama setan, terus jadian sama setan, akhirnya sampai ke jenjang pernikahan dan punya anak-anak setan.
Gw sendiri belom pernah liat secara langsung, ketemu, jabat tangan apalagi cipika-cipiki sama yang namanya setan. Tapi gw pernah punya pengalaman juga yang berhubungan dengan setan.
Pada waktu itu, gw sedang flu, hasrat untuk bersin-bersin gw yang tidak tertahankan membuat gw bersin di tempat dan waktu yang tidak semestinya, gw bersin di depan muka teman kuliah gw, spontan teman gw berteriak setan sambil menatap ke arah gw.
Hal mengerikan yang pernah gw alami adalah ketika gw sedang berada di Nunukan pada saat malam natal dan terjadi di sebuah penginapan yang gw tempati.
Ceritanya, setelah mencari makan malam di dekat penginapan, gw kembali kekamar untuk tidur. Kamar berukuran kurang lebih 3 x 2,5 meter persegi termasuk kamar mandi dan memiliki pencahayaaan redup, dengan kipas angin di langit-langit yang mengganggu cahaya dari lampu membuat suasana di dalam kamar menjadi sedikit mencekam.
Di dalam kamar tersebut terdapat sebuah meja kecil dan sebuah jendela bertirai disamping tempat tidur yang letaknya merapat ke dinding.
Ketika siang hari, pemandangan yang terlihat dari dalam kamar adalah sebuah gang panjang yang gw tidak tau kemana akan menuju.
Malam harinya, walaupun tempatnya agak mengerikan, tapi pada waktu itu adalah pertamakalinya gw merasakan tidur di kasur, dan buang air besar tanpa harus cemas akan dimakan anakonda selama 14 hari berada di Kalimantan, dan karenanya tidak lama waktu yang gw butuhkan untuk dapat tertidur.
________________________________________________________
Pada tengah malam gw terbangun karena mendengar suara jendela di sebelah kasur seperti ada yang mengketuk. Saat itu, perasaan gw langsung berubah jadi ngga enak, gw diam dan sambil memperhatikan apakah suara itu akan terdengar lagi. Pikiran gw tidak karuan, mendadak gw inget perkataan teman gw kalo di Kalimantan terkenal dengan gaib dan mistisnya, bahkan hantu Indonesia paling terkenal yang bernama Kuntilanak itu berasal dari Kalimantan, semua ini benar-benar membuat gw takut, ini sama sekali beda dengan perasaan menonton filmnya Suzana.
Waktu gw kecil memang gw sering menonton film-filmnya almarhumah Suzana. Buat gw pribadi, film tersebut (pada masanya) sukses membuat gw takut ke kamar mandi untuk buang air kecil ketika tengah malam, gw lebih memilih untuk ngompol dan ketika paginya gw kipas-kipas kasur basah pake buku matematika sampe kering biar ngga ketahwan nyokap. Sampai sekarang, kalo gw liat tukang sate ngipas-ngipas satenya gw langsung flashback ke masa itu, dan gw pengin bilang ke tukang satenya “skill lo masih cetek”
Balik lagi ke suasan mencekam.... Suara ketukan tersebut terdengar terus menuerus, gw ngga bisa melanjutkan tidur dengan tidak menggubris hal tersebut, selain rasa ingin tahu gw, gw belum pernah liat setan atau hantu, dan akhirnya gw memberanikan diri. Gw berharap kalau pun itu hantu, itu adalah hantu yang ramah (Casper), atau minimal hantu hidung, yang bisa gw usir hanya dengan buang angin.
Gw bangun, menyiapkan mental dan membuka dengan perlahan tirai yang menutupi jendela, dan yang terlihat adalah gw ngga bisa ngeliat apa yang ada diluar jendela.
Degup jantung semakin kencang, 100,5 km/jam, gw mengernyitkan dahi, menanjamkan pengelihatan mencoba untuk melihat menembus kegelapan.
“mas tolong bukain pintu depan, saya mau masuk” dari dalam kegelapan terdengar suara laki-laki.
“ke ke ke.. kenapa mas?” sahut gw dengan ter bata-bata..
“saya mau masuk, saya dikunciin karena pulang kemaleman” , Jawab dia singkat pada dan gajelas..
Gw mikir lagi, dia gak mungkin setan, kemungkinannya kalo ngga lelaki panggilan ya bencing. Tapi saat itu gw lega dan gw bersyukur banget, gak ada yang minta sate 100 tusuk ke gw.
Lalu gw keluar untuk membukakan pintu. Keadaan di luar kamar sudah gelap dan sepi.
Gw berjalan menuju pintu depan, benar saja pintunya sudah terkunci saat itu, namun gw tidak melihat ada kunci yang tergantung di pintu tersebut. Gw mencoba ke tempat resepsionis yang berada dekat kamar gw. Disana tidak terlihat seorangpun, gw mencoba mencari kunci di meja resepsionis, namun gw gagal.
Gw pun bingung harus bagaimana, tidak ada orang yang bisa gw mintai tolong, bagaimana kalo gw nanti diculik, digrepe-grepe lalu diperkosa. Gw tidak tau pemilik losmen ini berada di kamar yang mana, gw coba naik ke lantai 2, setelah sapai di lantai 2 dari tangga gw melihat ke arah kanan, terlihat lorong mencekam, dan gw melihat ke arah kiri, terlihat lorong mengerikan, benar-benar ngga kaya film yg dulu pernah gw tonton semasa kecil “Kanan Kiri Oke”. Gw pun langsung turun lagi.
Gw menncoba menelusuri lorong sampai ke kamar mandi belakang. Terdengar suara seperti ada yang mandi. Akal sehatku berpikir, siapakah yang mandi tengah malem gini?
Kalo di film-film setan Indonesia biasanya ketika tokoh utama mendengar suara ada orang mandi di kamar mandi, ia akan mencoba melihat ke kamar mandi, dan begitu dilihat ternyata tidak ada yang mandi, dan ketika sang tokoh utama membalikan badannya setannya muncul di depan muka sang tokoh utama.
Kalo buat gw, udah jelas pasti setannya melakukan modus yang sama, gw gak akan kejebak sama si setan, cara lo udah basi, Jadi gw akan nunggu sampai pintu kamar mandi terbuka dari dalem, biarlah gw berspekulasi yang akan keluar itu manusia apa setan.
Gw menunggu kurang lebih 3 menit untuk mengetahui jawabannya. Pintu mulai terbuka, dan dari belakang pintu muncul kilauan cahaya yang memantul di butiran-butiaran air, muncul mas mas yang gak keren. Tapi bagi gw dia keren, karena dia dibutuhkan seseorang diluar sana dan dinanti kemunculannya oleh gw.
Setelah itu gw menceritakan keperluan gw, mas-mas segar habis mandi itu membukakan pintu, orang mencurigakan masuk, Tasya sudah tidak takut gelap dan gw masuk ke kamar untuk melanjutkan tidur gw di Nunukan.
Pesan gw, seseram apapun tempat itu kita harus yakin terhadap Tuhan, karena jika niat kita baik Tuhan selalu memberikan jalan dan melindungi kita, InsyaAllah..
Minggu, 18 November 2012
Jumat, 09 November 2012
Nunukan Im in Love bagian 1 (Ala Titanic)
Ada yang inget iklan Antimo gak? Itu loh,obat anti mabuk yg kenyataannya gak bisa menghalangi kita dari mabuk karena cinta.
Dalam bepergian jarak jauh menggunakan kendaraan seperti mobil, pesawat ataupun kapal, ada baiknya kita meminum obat anti mabuk. Selain itu untuk mencegah mabuk saat diperjalanan, kabarnya obat ini akan sangat memabukan apabila di minum dengan soda, dan mematikan apabila obat itu diminum dengan racun serangga.
Bytheway, akhir tahun 2011 lalu, gw terdampar selama 20 hari di Kalimantan, disana gw sempat mampir ke daerah yang bernama Nunukan yang terletak di Kaltim.
Untuk menuju ke Nunukan, dari tempat gw menetap di Samarinda ditempuuh selama kurang lebih 7 jam perjalanan menggunakan 3 jalur transportasi, Darat, udara dan laut (ditambah api jadi avatar deh gw)
Sebenarnya dari Samarinda ke Nunukan bisa dicapai hanya dengan satu kali naik pesawat. Dari bandara Temindung Samarinda langsung ke Nunukan menggunakan pesawat kecil, namun saat gw coba mencari tiket, gw sudah kehabisan karena pada saat itu sudah mendekati hari Natal sehingga banyak sulit mendapatkan tiket.
Bertepatan dengan tanggal 24 Desember, gw berangkat menuju Nunukan. Dari kontrakan gw di Samarinda jam 2 pagi naik mobil travel. Perjalanan menuju Bandara sepinggan Balikpapan ditempuh dalam waktu kurang lebih 4 jam perjalanan. Karena pada saat itu masih gelap dan gw ngantuk, gw lebih memilih tidur dan bertemu Anisa Cherrybelle dalam mimpi (beruntung si Anisa karena gw gak mimpi dia).
Sampai di Sepinggan jam 6, pesawat gw baru boarding jam 9 dan artinya gw masih sempet bobo cantik mandi imut, gosok gigi oye, ee ganteng, dan sarapan unyu di bandara... Saat itu gw merasa bandara ini sudah menjadi tempat bermain gw, kursi-kursinya menjadi springbed (lebih tepatnya wirebed), menjadi rumah kedua gw dan pokoknya my airport sweet airport.
Pesawat tiba tepat waktu dan gw berangkat menuju kota Tarakan sebelum nantinya gw akan naik speed boat menuju Nunukan.
Perjalanan dengan speed boat ditemmpuh dalam waktu kurang lebih 2 jam dari pelabuhan speed boat di Tarakan, dan ini ke dua kalinya gw naik kapal untuk menyebrangi pulau, speedboat yang gw tumpangi ini memang cukup keren, pake AC dan ada TV di dalamnya, pokoknya mirip speedboat dalam film-film James Bond, bedanya Cuma speed boat yg gw tumpangi lebih mirip pasar malem, ada musik dangdut, dan bau balsem nenek-nenek.
Cuaca saat itu nampak mendung, langit gelap dan gak lama setelah suara gemuruh di langit turunlah hujan yang sangat deras. Hujan membuat suasana mencekam di dalam kapal. Lagu dangdut dimatikan dan bau balsem semakin menyengat. Gw mencoba tidur, tapi guncangan kapal membuat gw tetap terjaga, baru kali ini gw berada di dalam kapal yang sedang diterjang badai, gw rasa sebentar lagi dewa Poseidon akan muncul dan menculik gw.
Ini sama sekali ngga kayak di film James Bond, ini lebih mirip film Titanic, dan gw berperan sebagai Leonardo Dicaprio versi berpacaran dengan Tasya si gembala sapi yang tidak takut gelap.
Dalam keadaan seperti ini, gw pikir ada baiknya untuk menyiapkan plastik untuk menyimpan hape jikalau kapal yang gw tumpangi tenggelam hape gw tidak kebasahan agar nantinya gw bisa ngehubungi nyokap buat bayar hutang-hutang gw, dan nanti kalopun gw selamat hutang gw sudah lunas semua dengan syarat kalo gw beneran bisa telpon di tengah laut.
Saat itu, suasana di dalam kapal terasa hening dan suram, gw melihat ke orang di sebalh gw. Mukanya menampakan ketabahan dalam kediamannya, gw berharap dia sudah minum antimo dan gak akan muntah di sebelah gw. Karena bakalan ajaib baunya kalo bau balsem berkolaborasi dengan bau muntah, efeknya mungkin akan lebih dahsyat dari bom atom (kentut).
Disaat seperti ini, selain nahkoda dan awak kapalnya, hanya Tuhan yang bisa diandalkan. Udah pasti saat itu gw berdoa demi keselamatan gw, demi orang yang gw cintai dan demi Baim si anak soleh agar dia cepat dijemput oleh yang maha kuasa.
Para penumpang yang lain juga terlihat khusyu, ada yang mendengarkan musik, tidur (hebat nih bisa tidur, pasti seorang pelaut), dan ada juga yang melihat ke arah hape untuk mungkin membaca sms yg sudah dibaca sebelumnya. Gw sendiri sibuk memperhatikan mereka sambil berharap ada orang terzolimi yang ikut berdoa agar kapalnya tidak tenggelam.
Doa gw pun sepertinya dikabulkan... Entah gw ketiduran, pingsan atau dibius lalu di grepe-grepe lalu di perkosa dan dikembalikan ke posisi semula seolah-olah tidak terjadi apa-apa, gw menemukan diri gw terbangun di kursi yang dari tadi gw tempati. Terliha dari jendela kapal kondisi di luar kapal masih hujan. Samar-samar terlihat dari kejauhan sebuah pelabuhan yg kecil.... Sepertinya gw sudah sampai di Nunukan, dan gw sadar sat ini gw berada jauh dari keluarga, saudara dan teman-teman, hanya pada Mu Tuhan tempatku berharap.
Jadi kapal aja ganteng banget (DC 10)
Dalam bepergian jarak jauh menggunakan kendaraan seperti mobil, pesawat ataupun kapal, ada baiknya kita meminum obat anti mabuk. Selain itu untuk mencegah mabuk saat diperjalanan, kabarnya obat ini akan sangat memabukan apabila di minum dengan soda, dan mematikan apabila obat itu diminum dengan racun serangga.
Bytheway, akhir tahun 2011 lalu, gw terdampar selama 20 hari di Kalimantan, disana gw sempat mampir ke daerah yang bernama Nunukan yang terletak di Kaltim.
Untuk menuju ke Nunukan, dari tempat gw menetap di Samarinda ditempuuh selama kurang lebih 7 jam perjalanan menggunakan 3 jalur transportasi, Darat, udara dan laut (ditambah api jadi avatar deh gw)
Sebenarnya dari Samarinda ke Nunukan bisa dicapai hanya dengan satu kali naik pesawat. Dari bandara Temindung Samarinda langsung ke Nunukan menggunakan pesawat kecil, namun saat gw coba mencari tiket, gw sudah kehabisan karena pada saat itu sudah mendekati hari Natal sehingga banyak sulit mendapatkan tiket.
Bertepatan dengan tanggal 24 Desember, gw berangkat menuju Nunukan. Dari kontrakan gw di Samarinda jam 2 pagi naik mobil travel. Perjalanan menuju Bandara sepinggan Balikpapan ditempuh dalam waktu kurang lebih 4 jam perjalanan. Karena pada saat itu masih gelap dan gw ngantuk, gw lebih memilih tidur dan bertemu Anisa Cherrybelle dalam mimpi (beruntung si Anisa karena gw gak mimpi dia).
Sampai di Sepinggan jam 6, pesawat gw baru boarding jam 9 dan artinya gw masih sempet bobo cantik mandi imut, gosok gigi oye, ee ganteng, dan sarapan unyu di bandara... Saat itu gw merasa bandara ini sudah menjadi tempat bermain gw, kursi-kursinya menjadi springbed (lebih tepatnya wirebed), menjadi rumah kedua gw dan pokoknya my airport sweet airport.
Pesawat tiba tepat waktu dan gw berangkat menuju kota Tarakan sebelum nantinya gw akan naik speed boat menuju Nunukan.
Perjalanan dengan speed boat ditemmpuh dalam waktu kurang lebih 2 jam dari pelabuhan speed boat di Tarakan, dan ini ke dua kalinya gw naik kapal untuk menyebrangi pulau, speedboat yang gw tumpangi ini memang cukup keren, pake AC dan ada TV di dalamnya, pokoknya mirip speedboat dalam film-film James Bond, bedanya Cuma speed boat yg gw tumpangi lebih mirip pasar malem, ada musik dangdut, dan bau balsem nenek-nenek.
Cuaca saat itu nampak mendung, langit gelap dan gak lama setelah suara gemuruh di langit turunlah hujan yang sangat deras. Hujan membuat suasana mencekam di dalam kapal. Lagu dangdut dimatikan dan bau balsem semakin menyengat. Gw mencoba tidur, tapi guncangan kapal membuat gw tetap terjaga, baru kali ini gw berada di dalam kapal yang sedang diterjang badai, gw rasa sebentar lagi dewa Poseidon akan muncul dan menculik gw.
Ini sama sekali ngga kayak di film James Bond, ini lebih mirip film Titanic, dan gw berperan sebagai Leonardo Dicaprio versi berpacaran dengan Tasya si gembala sapi yang tidak takut gelap.
Dalam keadaan seperti ini, gw pikir ada baiknya untuk menyiapkan plastik untuk menyimpan hape jikalau kapal yang gw tumpangi tenggelam hape gw tidak kebasahan agar nantinya gw bisa ngehubungi nyokap buat bayar hutang-hutang gw, dan nanti kalopun gw selamat hutang gw sudah lunas semua dengan syarat kalo gw beneran bisa telpon di tengah laut.
Saat itu, suasana di dalam kapal terasa hening dan suram, gw melihat ke orang di sebalh gw. Mukanya menampakan ketabahan dalam kediamannya, gw berharap dia sudah minum antimo dan gak akan muntah di sebelah gw. Karena bakalan ajaib baunya kalo bau balsem berkolaborasi dengan bau muntah, efeknya mungkin akan lebih dahsyat dari bom atom (kentut).
Disaat seperti ini, selain nahkoda dan awak kapalnya, hanya Tuhan yang bisa diandalkan. Udah pasti saat itu gw berdoa demi keselamatan gw, demi orang yang gw cintai dan demi Baim si anak soleh agar dia cepat dijemput oleh yang maha kuasa.
Para penumpang yang lain juga terlihat khusyu, ada yang mendengarkan musik, tidur (hebat nih bisa tidur, pasti seorang pelaut), dan ada juga yang melihat ke arah hape untuk mungkin membaca sms yg sudah dibaca sebelumnya. Gw sendiri sibuk memperhatikan mereka sambil berharap ada orang terzolimi yang ikut berdoa agar kapalnya tidak tenggelam.
Doa gw pun sepertinya dikabulkan... Entah gw ketiduran, pingsan atau dibius lalu di grepe-grepe lalu di perkosa dan dikembalikan ke posisi semula seolah-olah tidak terjadi apa-apa, gw menemukan diri gw terbangun di kursi yang dari tadi gw tempati. Terliha dari jendela kapal kondisi di luar kapal masih hujan. Samar-samar terlihat dari kejauhan sebuah pelabuhan yg kecil.... Sepertinya gw sudah sampai di Nunukan, dan gw sadar sat ini gw berada jauh dari keluarga, saudara dan teman-teman, hanya pada Mu Tuhan tempatku berharap.
Jadi kapal aja ganteng banget (DC 10)
Langganan:
Komentar (Atom)
